[Movie Review] Dilan 1990: Cowo Nakal Tapi Ga Kasar

Dilan-1990-duniarania-wordpresscom

Masa SMA adalah masa yang paling indah. Terutama kisah cinta monyetnya. Inilah tema utama dari Film Dilan 1990 yang tayang dari seminggu yang lalu. Film yang diadaptasi dari novel Pidi Baiq: Dilan, Dialah Dilanku 1990 ini bisa dibilang sukses di pasaran karena mengusung nostalgia kisah kasih masa SMA yang bikin “Apa siiiih?” tapi senyam-senyum sendiri karena kemanisan.

Saya ga bisa ngasih perbandingan antara novel dan filmnya karena saya belum baca novelnya satu pun. Nonton trailernya pun ga karena saya pengen nonton tanpa ekspektasi apa pun. Apa lagi sempat beredar kabar underestimate karena Iqbaal ‘CJR’ Ramadhan yang memerankan sang protagonis laki-laki.

Sooo, let’s watch it without any expectation~

Dan hasilnya? WOW! IT’S BEYOND MY EXPECTATION!

Setelah berkali-kali ga jadi nonton sama masku, akhirnya Jumat kemaren kita berdua berhasil nonton Dilan dan keluar bioskop dengan senyuman yang terus mekar. Obrolan terus berlanjut meskipun udah nyampe eskalator tentang masa-masa indah dan absurd kita berdua waktu sekolah menengah atas. Yaaah, saya dan masku ini ade-kaka kelas gitu, ketemu pas saya lagi di MOS dan doi kebetulan panitia yang sekalian jadi ajang modus buat ngincer ade kelas.

3 tahun berada di atap sekolah yang sama membuat banyak kisah tertoreh, baik dengan tawa maupun air mata. Terus, ada beberapa adegan yang memang pernah kita berdua alami. Seperti teleponan koin (tahun 2008 masih ada loh telepon koin, saksi bisu usaha PDKT si mas), kirim-kiriman puisi sampe ujan-ujanan berdua di motor (kalau saya pake acara nungguin kereta lewat). Untung nonton sama si mas, soalnya pas Dilan ngeluarin gombalannya yang random, saya kegiungan dan bisa mukul-mukul manja gitu. Uwuwuwuw~

Dilan-1990-motor-hujan-duniarania-wordpresscom

Anak remaja milenial sekarang mah ga bakal ngerasain degdegan-nya nunggu telpon rumah dari sang gebetan, atau cuma bisa mandangin kado spesial dari doi kalau pas lagi kangen.

Mungkin segmentasi pasar penonton film ini adalah generasi Y yang sekarang udah berumur 20 tahun ke atas. Zaman cuma bisa ketemu ajah udah bahagia, gebetan mau dibonceng (apa lagi mau meluk) ajah udah serasa dunia milik berdua, hihihi…

Selain kadar manis yang bikin diabetes itu, tatapan Dilan yang tajam bikin saya klepek-klepek~ Tatapan ‘Aku mau kamu’ dan ‘Jangan bilang ada yang menyakitimu karena nanti dia akan hilang’ itu cocok dengan karakter bad boy pentolan sekolah sekaligus berkharisma. Apa lagi kalau udah keluar cengiran ­boyish-nya. Meleleh hati ini, Dek~

Dilan-1990-badboy-duniarania-wordpresscom

Dengan sosok Iqbaal sendiri, saya termasuk yang biasa ajah. Tapi saya seneng banget sama sosok Dilan. Menurut saya, Iqbaal sukses membuktikan kepada yang sempat skeptis bahwa ia memang pantas memerankan Dilan. Congrats, brooo…

Untuk tokoh Milea sendiri, Vanesha sudah pas memerankan karakter cewe SMA yang cepat luluh karena hal sederhana. Bukankah memang itu indahnya cinta zaman SMA? Ya seenggaknya saya sendiri siiih… Apa lagi mantan pacarnya Milea, Beni, yang digambarkan sebagai seorang yang kaya tapi kasar. Siapa coba yang suka cowo kasar? Cowo kasar, kebawa arus di bendungan Katulampa ajah lah, mumpung lagi gede tuh hari ini, hahaha…

Dilan-1990-milea-duniarania-wordpresscom

Chemistry yang natural dari mereka berdua patut diapresiasi tinggi. Karakter Milea yang tadinya saya anggap agak lemah, jadi semakin menguat saat Milea berusaha menghentikan Dilan supaya ga ikut tawuran. Naaah gitu doong. Jadi cewe juga punya prinsip, sist.

Adegan favorit saya adalah saat Dilan ngehajar Anhar. Dilan membuktikan perkataannya sendiri untuk ‘menghilangkan’ siapa pun yang menyakiti Milea. Manly banget, meeeen! Dan katanya, khusus adegen berantem ini sampai diarahkan oleh koreografer khusus berantem. Bringas!

Untuk plot, sebenarnya alur yang digunakan cukup sederhana: cowo bad boy suka sama cewe cantik. Konfliknya pun tidak terlalu berat, tidak jauh dari rasa cemburu dan halangan-halangan kecil lainnya.

Simple but sweet.

Terlepas dari uyel-able-nya sosok Dilan, ada beberapa catatan pulpen merah untuk film ini. CGI yang dipakai saat adegan di mobil Bundanya Dilan dan Milea itu saya rasa ga perlu. Efeknya kurang smooth. Beberapa adegan tertawa juga terasa kurang natural. Tapi ga apa-apa, masih enjoyable. Yang butuh micin gula karena hidup udah terlalu pait, boleh dicoba nonton film ini.

Dari hasil sampling temen-temen saya yang seumuran ehmdiatasduapuluhtigaehm, mereka ngasih komentar bagus. Reaksi setelah keluar bioskop juga sama:

BIKIN MESEM-MESEM~

Habis Fahri, terbitlah Dilan. Setelah Fahri jadi pria idaman para wanita dewasa, standar cowo di mata cewe remaja meningkat drastis karena sosok Dilan. Kesian juga sih, cowo-cowo yang lagi PDKT-in gebetannya.

“Cara PDKTnya kayak Dilan, dong. Random, jail tapi romantis gitu.” Hempaskan saja Abang, Dek 😂

Untuk cewe-cewe yang pengen gebetannya kayak Dilan, dunia sebenarnya ga selalu kayak roti keju dimesesin, Dek. Kadang bakalan ada rasa yang bumbu kacang bekas kemaren: asemmm. Apa lagi kalau udah mulai ngitung biaya resepsi zaman now, bisa ngirit biaya souvenir ajah udah bersyukur.

Untuk cowo-cowo yang minder sama Dilan. Jangan jadi Dilan. Berat. Kalian ga bakal kuat. Jadilah diri kalian apa adanya. Ciptakan kisah kasih indah kalian sendiri. Karena nanti, wanita bukan hanya butuh kata-kata, tapi juga keberanian untuk diajak ke pelaminan.

Tsaaaaah~

Sooo, I give 7.5/10 for this movie!

Advertisements

What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s